Pengalaman sebagai Penyintas Covid-19

By Deph - September 01, 2021

Hai apa kabar semua? Semoga selalu sehat ya.. Sudah lama tak cerita-cerita di sini. Seperti yang kita tahu selama hampir dua tahun ini kita masih dilanda musibah wabah covid-19 yang tak kunjung reda. Semua hal yang sudah kita rencanakan harus pupus selama dua tahun ini. Kita berharap semoga segera membaik ya. Mari tetap menerapkan protokol kesehatan ketat (5M), menjaga jarak, dan mengurangi mobilitas agar kita kembali seperti sedia kala.. Aamiin.. Sudah kangen traveling tanpa harus tes PCR nih hehehe

Saya akan menceritakan pengalaman saya sebagai penyintas covid-19. Semoga ini menjadi pengalaman dan juga semangat bagi teman-teman semua yang sedang berjuang. 


Berawal dari Ayah saya yang sudah merasakan flu (batuk, pilek, serta demam) selama 3 hari. Demam hingga 39 derajat yang tak kunjung turun akhirnya kami memutuskan untuk membawa Ayah saya ke UGD Rumah Sakit terdekat. Pada bulan itu, kasus covid sedang naik daun terutama di Bandung. Jadi, banyak sekali pasien yang masuk ke UGD untuk diperiksa dan juga dites Antigen atau PCR. Mungkin, jika tidak dalam kasus covid-19 rasanya sakit flu sudah hal biasa ya, terutama di Indonesia. Beberapa jam kemudian hasil rapid antigen Ayah saya keluar dan dinyatakan positif. Tentunya kami sekeluarga panik dan sedikit takut. Saat itu saya berpikir Ayah dan Ibu saya memiliki penyakit bawaan (komorbid). 

"Kenapa bisa?" "Dapat darimana?" 

itu yang banyak ditanyakan orang saat kita dinyatakan positif. Jawabannya, kami tidak tahu. hehe Ayah saya termasuk yang paling "cerewet" soal protokol kesehatan. Kami jarang keluar rumah sebenarnya. Jadi, bingung juga dapat dari mana. Saat sakit saja Ayah saya tetap memakai masker di rumah. Intinya, sudah takdir Allah ya. Makhluk sekecil itu pasti sudah tahu jalan menuju organ tubuh manusia. 

Tentunya, saya sebagai anak muda harus tetap tenang dan menenangkan semua keluarga. Kami sekeluarga harus segera tes PCR/antigen untuk memastikan keadaan kami. Besoknya kami sekeluarga memutuskan untuk tes PCR/antigen. Selama Ayah saya flu saya juga sudah merasa tidak enak badan tapi tidak flu hanya sakit badan sekujur tubuh. Namun, saat itu tidak terlalu dipikirkan. 

Menunggu hasil tes PCR kami sekeluarga langsung isolasi mandiri. Dua hari kemudian hasil tes PCR Ibu dan Adik-adik saya keluar. Ibu dan Adik pertama saya positif, Adik bungsu saya negatif, dan hasil antigen saya juga negatif. Mengapa saya tidak langsung PCR? Saya belum bergejala dan mendapat fasilitas kantor untuk tes PCR. Berhubung saya hanya bisa tes PCR di kantor hanya pada hari kerja. Jadi, saya menunggu sekitar dua hari. Hasil tes PCR saya dinyatakan positif covid pada awal bulan Juli 2021 dan CT nya cukup rendah, yaitu 15. Mungkin saya orang terakhir yang memiliki gejala covid di rumah. Oleh karena itu, kami semua harus isolasi mandiri di rumah selama 14 hari. Untungnya rumah kami punya kamar yang bisa dihuni oleh setiap orang. hehee Jadi, isoman di kamar masing-masing termasuk adik saya yang negatif. Kenapa dia tidak mengungsi? karena khawatir juga sudah tertular dan menularkan maka diputuskan untuk tetap di rumah dengan protokol kesehatan yang super ketat. 

Lima hari pertama kondisi yang paling drop. Itu berlaku untuk Ayah, Ibu, dan Adik saya yang punya penyakit penyerta. Badan lemas, selera makan hilang, demam yang tak kunjung turun (38-39 derajat), bahkan sesak napas. Saat itu mencari oksigen sangat susah. Semua orang butuh. Bahkan sampai rumah sakit dengan gejala sesak napas ditutup sementara karena tidak tersedianya oksigen. Bayangkan sampai seperti itu. Jadi, kalau mau ke UGD RS harus bawa oksigen sendiri. Betapa sedihnya ya. Bagaimana mental juga tidak ikutan drop. Beruntungnya, kami mendapatkan stok oksigen dari satgas covid-19 di lingkungan perumahan kami, Alhamdulillah. Saturasi Ibu saya saat itu naik turun bahkan sempat di bawah 94, harusnya segera dibawa ke rumah sakit terdekat tapi karena kondisi penuh dan jika ke rumah sakit juga tetap dipulangkan. Saat itu rumah sakit hanya untuk pasien dengan kondisi gejala berat.


Bagaimana dengan saya? Saya pada awalnya tidak bergejala hingga bergejala ringan. Ini juga faktor saya yang sudah divaksin 2 kali. Apakah seperti terkena flu biasa? oh tentu tidak. Gejalanya sama tapi rasanya sungguh berbeda. Sekalipun tidak demam tapi ngerasa sakit badan sekujur tubuh, dari kepala hingga kaki, badan linu kayak mau patah. Saya baru merasakan ini. Saya hanya demam sehari, tepatnya sehari sebelum tes PCR. Demam tiba-tiba 38 derajat lebih, besoknya tiba-tiba hidung mampet, lalu mulai kehilangan indera penciuman. Rasanya semua hitungan hari bahkan jam.  Hanya saya yang merasakan sakit badan yang lainnya tidak. Saya juga tidak batuk, sementara yang lain batuk. Saat kehilangan penciuman itulah yang buat saya sempat drop, tiba-tiba tidak bisa mencium apapun termasuk parfum atau minyak kayu putih. Bahkan, bau gosong makananpun tidak tercium. 

Tentunya setiap orang berbeda kondisi. Namun, pada penderita covid-19 rata-rata mereka mengalami kehilangan indera penciuman bahkan perasa. Alhamdulillah indera perasa saya masih terasa walau selera makan sudah mulai hilang. Kondisi terburuk saya saat virus ini menyerang lambung. Seharian mual dan muntah cukup sering. Selain faktor virus juga karena obat antivirus yang sangat keras. Oh ya, obat antivirus ini saya dapatkan dari puskesmas tempat saya tinggal dan beberapa resep dokter.

Menurut para ahli kondisi pasien covid itu drop di hari ke-5 sampai ke-10 baik yang bergejala sedang hingga berat. Dikutip dari New York Times, para dokter mengatakan hari ke-5 hingga ke-10 seringkali merupakan waktu yang paling mengkhawatirkan untuk komplikasi pernapasan pada pasien covid-19. Hari-hari ini harus dipantau sesering mungkin, terutama saturasi oksigen penderita.

Alhamdulillah pada hari ke-10 saya dan keluarga kondisinya jauh lebih baik. Penciuman mulai kembali normal dan tidak ada demam. Saya dinyatakan negatif di hari ke-19. Begitupun anggota yang lainnya. Ibu saya tepat sebulan dinyatakan negatif. Kondisi ini berbeda-beda, jadi jangan takut ^^. Saya memang sengaja tes PCR terlambat karena memastikan saya tidak ada gejala dan menghemat uang juga hehhee. Karena saat covid-19 kita memerlukan banyak sekali uang untuk membeli makanan dan obat-obatan yang tidak ada. 

Oh ya, yang punya peliharaan kucing/anjing, usahakan hewan tetap di kandang atau di luar rumah dan  berinteraksi juga dari luar rumah dengan menggunakan masker atau sarung tangan saat memberi makan, takut tertular juga. 

Menurut WHO, bahwa isolasi mandiri berakhir pada hari ke-10 bila tanpa gejala, jika masih ada gejala tambah dua hari dan seterusnya. Hingga digenapkan sampai 14 hari dan tanpa memerlukan tes PCR kembali. Pasien ini langsung dinyatakan negatif atau sudah sembuh. Namun, karena kebutuhan pekerjaan atau hal lain kita masih memerlukan hasil tes PCR/antigennya negatif.


Benar, saat terpapar covid-19 kuncinya sabar, pasrah, dan ikhlas. Pasti ini sudah ketetapan Allah dan bagian dari perjalanan hidup. Jalani dan banyak berdoa. Saat sakit seperti ini selain kondisi fisik harus terus bangkit, metal juga harus tetap dijaga supaya tetap sehat. Ini yang terkadang sulit. Kondisi fisik yang tiba2 melemah, pikiran jadi berkembang kemana-kemana. Tapi, memang benar bahwa covid-19 ini harus dilawan dengan mental yang kuat dan imunitas yang baik. Soalnya saat sakitpun masih terpikir gimana kondisi keluarga yang lain? Mampu bangkit? Apakah semakin membaik? Alhamdulillah, masih ada adik yang kondisinya sehat bisa membantu kami disaat badan drop. 

Alhamdulillah dengan banyaknya dukungan orang-orang terdekat mampu membangkitkan kami di saat kondisi terlemah, walau hanya sekadar menanyakan kabar. Dukungan keluarga di rumah untuk saling menguatkan juga modal untuk bisa sembuh. Saat isoman, gunakan waktu yang bisa membuat kita bahagia; nonton film, nulis, baca buku, dzikir, mengaji, dengerin musik, atau apapun. Ini penting karna membantu mengalihkan pikiran negatif. Terus berusaha dan berdoa, yakin bahwa Allah pasti menyembuhkan kita. Banyak juga yang akhirnya menderita long covid pascasembuh. Termasuk saya, masih merasa 3L seusai menderita covid. Ini berlangsung hampir satu bulan. Dilansir dari kompas.com hal ini terjadi tergantung tingkat keparahan pasien, rata-rata yang menderita long covid tingkat sedang hingga berat. Jadi, yang menderita long covid berkepanjangan harus tetap konsultasi ke dokter ya dan tetap jaga pola hidup. [1

Pelajaran yang saya ambil dari musibah ini adalah terus bersyukur dalam kondisi apapun. 


Semangat untuk teman2 yang kini juga sedang berjuang untuk bangkit dan sembuh. Semoga Allah senantiasa melindungi kita dan segera menghilangkan wabah covid-19 ini agar bumi segera pulih. Aamiin.  Stay safe dan tetap jaga kesehatan ❤ Semoga tidak ada lagi kehilangan orang-orang tersayang. Sekarang sudah banyak informasi mengenai covid-19 maka jangan cemas, tetap semangat, dan terus berdoa.

Jadi, yang belum vaksin ayo segera vaksin ya! Vaksin merk apapun, demi menjaga diri kita dan orang-orang tersayang akibat covid-19. Bagi teman-teman yang masih tidak percaya dengan virus covid-19 semoga Allah jauhkan ya. 😊 Terima kasih untuk semua saudara, teman, tetangga yang sudah sangat membantu kami mengirimkan makanan dan obat-obatan serta mendoakan kami sembuh. Terima kasih para tenaga kesehatan yang sudah bekerja keras. 💓

"Tidaklah seseorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanaan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya". (HR. Bukhari no. 5641)

"Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku." (QS. Asy-Syu'ara: 80).

“Apabila seorang hamba sakit atau sedang safar, maka Allah akan menuliskan baginya pahala seperti saat ia lakukan ibadah di masa sehat dan bermukim.” (HR. Bukhari no. 2996)

“Jika Allah mencintai suatu kaum maka mereka akan diuji” (HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath, 3/302)

"Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalam keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang." (HR. Bukhari, Tirmidzi dan Ibnu Majah).



Obat-obatan apa yang diperlukan saat terkena covid? Ini juga perlu dikonsultasikan ke dokter ya, jangan membeli obat diluar resep dokter. Hal-hal yang perlu ada dan dilakukan di rumah selama isolasi mandiri:
  1. Obat-obatan yang mudah diperoleh adalah obat penurun demam seperti paracetamol, vitamin yang memiliki kandungan lengkap (A, B, C, D, K, Zinc, dsb), obat flu, obat batuk, dan minyak kayu putih. Untuk obat antivirus, antibiotik, atau obat Azithromycin diperoleh dari puskesmas atau resep dokter. Bergantung pada kondisi pasien.
  2. Termometer (alat yang digunakan untuk mengukur suhu badan).
  3. Oximeter (alat pengukur kadar oksigen dalam darah).
  4. Tensimeter (alat yang digunakan untuk mengukur tekanan darah).
  5. Menggunakan Masker N95/KF94 atau masker medis.
  6. Berjemur selama 10-15 menit pada pukul 09.00-11.00.
  7. Olahraga ringan secara rutin sebanyak 3-5 kali seminggu.
  8. Makan dengan gizi yang seimbang sebanyak 3 kali sehari.
  9. Tidur cukup 6-8 jam per hari.

 


Informasi seputar Covid-19:
  1. Dilansir dari detik.com menurut penelitian yang dikutip dari Harvard Medical School, diperkirakan masa inkubasi COVID-19 selama 3 hingga 14 hari. Gejala infeksi akibat virus tersebut biasanya akan muncul dalam 4-5 hari setelah terpapar, dan mungkin bisa menular ke orang lain selama 48 jam sebelum gejala muncul. [2]
  2. Dilansir dari detik.com, pasien untuk yang tidak bergejala hingga sedang, isolasi mandiri selesai setelah dihitung dari 10 hari sejak tanggal mengalami gejala, kemudian ditambah minimal 3 hari setelah tidak lagi menunjukkan gejala demam dan gangguan pernapasan.  Pasien dengan gejala berat atau kritis yang dirawat di rumah sakit dapat dinyatakan selesai isolasi apabila telah mendapatkan hasil pemeriksaan RT-PCR 1 kali negatif, kemudian ditambah minimal 3 hari setelah tidak lagi menunjukkan gejala demam dan gangguan pernapasan.[3]
  3. WHO Guidelines [4]
  4. Satgas covid [5]
  5. Materi edukasi mengenai covid dari Tim Psikologi [6]




Sumber gambar:
  1. indonesiabaik.id
  2. merdeka.com
  3. jakarta.go.id
  4. republika.co.id
  5. cnn indonesia
  6. kemenkes.go.id
  7. https://promkes.kemkes.go.id/kumpulan-flyer-pencegahan-virus-corona
  8. https://twitter.com/PrayerTimes/

  • Share:

You Might Also Like

0 coment�rios

thanks ya sudah mengunjungi blog saya ;)

Adv

Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia