Tampilkan postingan dengan label malaysia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label malaysia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Februari 2025

, ,

Biaya Liburan Hemat ke Malaysia dan Singapura: Pengalaman Seru dengan Budget Terjangkau

Liburan ke luar negeri adalah impian banyak orang, Singapura dan Malaysia menjadi destinasi yang sangat populer di kalangan wisatawan Indonesia. Kedua negara ini menawarkan berbagai pengalaman wisata yang menarik, mulai dari ikon-ikon terkenal di Singapura hingga kota-kota instagramable dan kuliner lezat di Malaysia. Dalam tulisan ini, saya akan berbagi pengalaman tentang biaya perjalanan saya ke Singapura dan Malaysia, serta tips mengatur anggaran supaya liburan tetap seru tanpa menguras kantong!

1. Biaya Penerbangan/Transportasi

Salah satu faktor yang mempengaruhi anggaran perjalanan adalah biaya penerbangan. Untuk perjalanan saya, saya memesan tiket pulang-pergi dengan maskapai low-cost, yaitu:

  • Jakarta - Kuala Lumpur (Transnusa): Rp586.000
  • Kuala Lumpur - Singapura (Batik Air): Rp347.000
  • Singapura - Jakarta (Jetstar): Rp1.643.050

Total biaya penerbangan untuk semua perjalanan adalah Rp2.576.000.

Jika kalian berencana untuk mengunjungi kedua negara, sangat disarankan untuk mencari tiket promo agar dapat menghemat biaya. Penerbangan antar kedua negara ini terbilang sangat terjangkau, dengan harga mulai dari Rp300.000 hingga Rp600.000 per penerbangan.

Jika kalian berencana mengunjungi kedua negara tersebut, pastikan untuk memeriksa harga tiket pulang-pergi. Biasanya, tiket pulang dari Kuala Lumpur ke Jakarta lebih murah dibandingkan dengan tiket pulang dari Singapura. Saya memilih untuk ke Kuala Lumpur terlebih dahulu karena harga tiketnya lebih terjangkau. Awalnya, saya berencana pulang ke Indonesia via Batam menggunakan feri, namun akhirnya memesan tiket pesawat dua hari sebelum kepulangan ke Jakarta sehingga harga relatif lebih mahal. Harga normal tiket dari Singapura ke Jakarta sekitar Rp900.000, namun jika ada promo, harganya bisa turun menjadi sekitar Rp600.000..

Ada alternatif lain untuk pulang ke Indonesia dari Singapura, yaitu dengan menggunakan feri ke BatamTerdapat berbagai jenis feri yang dapat dipilih, seperti Batam Fast Ferry, Majestic Fast Ferry, Horizon Ferry, dan Sindo Ferry. Perjalanan antara Singapura dan Batam memakan waktu sekitar 45 menit hingga 1 jam. Harga tiket feri bervariasi mengikuti kurs USD saat pemesanan, mulai dari 40-45 SGD (sekitar Rp485.000 - Rp545.000) untuk sekali jalan, tergantung jenis feri yang dipilih. Jika kalian memilih pulang pergi menggunakan feri, biayanya lebih murah, sekitar 76 SGD (Rp917.000) untuk tiket pulang-pergi. Pastikan untuk mengecek harga dan memesan tiket melalui laman web operator feri masing-masing. 

Feri dari Singapura ke Batam biasanya beroperasi melalui beberapa pelabuhan utama, yaitu:

  • HarbourFront Centre (Singapura)
  • Tanah Merah Ferry Terminal (Singapura)
  • Batam Centre
  • Harbour Bay (Batam)

Pengalaman saya sebelumnya, saya naik feri dari HarbourFront Centre (Singapura) menuju Batam Centre (Batam). Namun, jika kalian berencana berbelanja di Batam, saya sarankan untuk turun di Harbour Bay, karena lokasinya lebih dekat dengan kawasan perbelanjaan Nagoya. 



2. Akomodasi

Di Singapura, harga hotel bisa cukup mahal, terutama di kawasan pusat kota. Namun, saya memilih untuk menginap di hotel budget yang terletak juga tidak jauh dari pusat kota. Untuk satu malam menginap di Hotel J8 dekat dengan Mustafa Center, biayanya Rp1.065.375 per malam. Harga penginapan di Singapura berkisar antara Rp500.000 hingga Rp1.500.000. 

Sementara itu, di Malaysia, harga akomodasi lebih terjangkau. Saya menginap di hotel bintang tiga di Kuala Lumpur (Hotel Olympic) dengan biaya per malam Rp302.500. Harga penginapan di Malaysia relatif lebih terjangkau, yaitu berkisar Rp300.000 hingga Rp500.000an per malam. 

Pastikan juga untuk memilih penginapan yang dekat dengan transportasi umum! Hotel Olympic di Kuala Lumpur ini bersebelahan dengan MRT Merdeka, yang sangat menguntungkan untuk hemat biaya transportasi. Untuk review selengkapnya, kalian bisa cek video saya berikut ya: 

Sebagai alternatif, jika kalian ingin lebih hemat, kalian bisa memilih penginapan melalui platform seperti Airbnb atau Agoda, yang menawarkan pilihan harga yang lebih fleksibel. Untuk penginapan di Singapura, saya memesan melalui Agoda, sedangkan di Malaysia, saya menggunakan Trip.com.

Total penginapan:
  • Total penginapan di Malaysia (dua malam): Rp605.106
  • Total penginapan di Singapura (satu malam): Rp1.065.375
  • Total untuk penginapan: Rp1.670.481

Oh ya, kenapa saya hanya menginap satu malam di Singapura? Malam terakhir, saya memilih untuk menginap di Bandara Changi, hehee. Ini diperbolehkan, karena saya mengambil penerbangan pagi jam 07.00. Jadi, untuk yang memiliki penerbangan subuh atau pagi, kalian bisa menginap di bandara dan sudah bisa check-in 12 jam sebelum penerbangan. Ini bisa menghemat budget, hehee

Namun, jika kalian tiba di Changi tengah malam, setahu saya tidak diperbolehkan menginap hingga pagi. Kalian harus keluar bandara terlebih dahulu. Kebijakan ini hanya berlaku jika penerbangan kalian subuh atau pagi hari.

Bandara Changi sendiri memang menyediakan Snooze Lounge di beberapa terminalnya. Bandara ini memiliki aktivitas penerbangan yang padat dan sering dijadikan tempat transit sehingga Snooze Lounge bisa penuh. Waktu itu, kami tidur di sofa tidur yang juga nyaman untuk istirahat, walaupun jam 2 pagi dibangunkan petugas untuk dicek tiket dan boarding pass kita.
Continue reading Biaya Liburan Hemat ke Malaysia dan Singapura: Pengalaman Seru dengan Budget Terjangkau

Rabu, 15 November 2017

, ,

Belanja di Pasar Seni Malaysia (Central Market) [Part 4]

Ini hari terakhir kami berada di Kuala Lumpur. Sore nanti kami harus sudah berangkat menuju Bandung, Indonesia. Hari terakhir ini kami fokuskan untuk melihat destinasi terakhir dan berbelanja di Central Market  atau biasa dikenal dengan Pasar Seni, Malaysia. Konon Central Market ini ada sejak 1888 itu terlihat dari tahun yang tertempel di dinding bangunan ini. Dahulunya, konon dikenali sebagai Pasar Besar Kuala Lumpur yang menjual barang-barang basah seperti ikan, daging, ayam, sayur-sayuran dan barangan runcit, barang-barang yang dijual itu adalah barangan keperluan harian kepada para penduduk dan pelombong bijih timah di Kuala Lumpur. [1] Kini Pasar Seni dijadikan tempat belanja pernak-pernik, aneka makanan, atau sekadar oleh-oleh khas Malaysia. Selain Pasar Seni, Petaling Street juga bisa menjadi alternatif tempat belanja lainnya.

Pasar Seni ini buka sekitar pukul 10.00 hingga 22.00. Kami memutuskan untuk ke sana karena lokasinya tak jauh dari KL Sentral tempat kami menginap. Dibutuhkan RM 1.3 saja untuk sampai di Stasiun Pasar Seni. Bangunannya sepertinya masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Pasar Seni ini didesain untuk membuat pengunjung nyaman selama berbelanja di sana. Ruangan yang ber-AC juga menjadi pilihan bagi wisatawan yang tak ingin menerima pancaran matahari. Beruntungnya kami, saat itu tak terlalu padat pengunjung karena masih pagi juga sih jam 10.00. Di depan bangunan ini kami menjumpai tulisan besar Central Market, cocok untuk sekadar mengabadikan momen bersama teman dan keluarga.




http://www.malaysia.travel/

Nah, karena kami tidak memiliki waktu yang banyak hanya sampai jam 12 siang, kami memutuskan untuk berada di satu atau dua toko saja untuk memilih oleh-oleh untuk teman, sahabat, dan juga keluarga. Tak disangka kami berhenti di salah satu toko yang juga orang Indonesia. Bagaimana kami tahu? ketika kami saling berbicara pakai bahasa Sunda, ternyata tetehnya (nb: panggilan untuk anak perempuan  yang lebih tua di Sunda) juga berbahasa Sunda. Wah, jadilah toko tetehnya seperti ada di Pasar Kosambi, heboh. haha 😀 Sebut saja toko teteh juga menjual berbagai oleh-oleh dari Malaysia, seperti gantungan kunci, potong kuku, tempelan kulkas, tas, dompet, tempat bulpoin, dan lain sebagainya yang jumlahnya bisa 1/2 sampai 1 lusin. Pajangan miniatur Malaysia juga tersedia di sana. Gantungan kunci itu bisa berkisar 6-7 RM per setengah lusin. Oleh-oleh yang memudahkan itu kan gantungan kunci atau tempelan kulkas. hehe


 

Setelah puas berbelanja di toko teteh kami berpindah untuk mencari makanan kecil, coklat dan bahkan Milo. Milo Malaysia cukup terkenal kan ya. Fokus saya sih hanya untuk membeli coklat dan juga Milo, karena saya adalah milo lover. Tak lengkap rasanya jika tak membelinya langsung. Saya membeli dua macam milo, milo instant dan milo stik 3 in 1. Harga milo  yang dijual di sana sekitar 15 RM per bungkus (1 kg). Begitupun dengan coklat dan teh tarik 15-18 RM. Apa yang membedakan antara milo Indonesia dan Malaysia itu, lebih kepada rasa dan kepekatan susunya. Milo Indonesia lebih cenderung manis dibanding dengan milo Malaysia. Milo Malaysia lebih terasa coklatnya. Maka sering menyebut Milo-O (Milo tanpa susu kental manis).

Selain itu, Pasar Seni juga menjual kaos-kaos bertuliskan Kuala Lumpur atau I love Malaysia harganya realtif murah berkisar 25-30 RM per 3 baju. Namun, jika ingin memiliki kualitas baju sekelas Distro relatif lebih mahal bisa 25 RM untuk 1 baju. Hati-hati juga memilih baju ya teman, kadang yang dijual juga produk Bandung, Indonesia. hehehe Saya memilih kualitas yang baik agar bisa terus dipakai selama di Indonesia. Kualitas bagus biasanya dilihat dari bahan dan sablonnya.

Di sana juga banyak menjual khas negara lain seperti, Indonesia, Thailand, Singapura, dsb. Mungkin ketika banyak orang yang tak sempat berbelanja di negara tersebut, juga bisa beli di Pasar Seni. Selama Anda berbelanja di Pasar Seni alangkah lebih baik untuk ada transaksi tawar menawar ya.  Mereka juga fasih berbahasa Indonesia Melayu, so jangan takut untuk tawar-menawar hehe

Kami harus segera check-out dari penginapan dan menuju bandara jam 1 siang. Kami tak ingin terlambat dan lebih santai saja. Kami kembali menggunakan KLIA Ekspress menuju Bandara dari KL Sentral. Jika Anda tak sempat berbelanja, di Bandara juga menyediakan berbagai macam toko oleh-oleh untuk dibawa ke orang-orang tercinta. Sebagai informasi, jika anda menggunakan maskapai low price, Anda akan berjalan sejauh sekitar 1 km dari tempat Anda check-in online. Anda akan bertemu beberapa gate-gate pemeriksaan bandara maka pergunakan waktu secepat dan semaksimal mungkin ya. Bandara KLIA2 ini juga sangat luas dan panjang. Jika Anda tidak dalam kondisi yang baik, Anda bisa meminta petugas mengantarkan sampai pada Gate penerbangan Anda menggunakan mobil internal bandara. 😊

Ini akhir perjalanan kami selama trip Kuala Lumpur dan Singapura. Biaya yang dikeluarkan sekitar 2,8 jutaan termasuk tiket pesawat ke KL dan Singapura selama 4 Hari 3 Malam mengeksplor dua negara sekaligus. Semoga kami bisa berlibur di lain tempat, waktu, dan kesempatan ya. Semoga apa yang saya tulis di blog ini bisa bermanfaat dan menginspirasi untuk yang membacanya. Cheers! Namaste! Wassalam. Selamat berlibur Guys! 💗 🙋



.end.
 

Continue reading Belanja di Pasar Seni Malaysia (Central Market) [Part 4]

Rabu, 01 November 2017

,

Traveling ke Malaysia: Explore Melaka dan Little India KL Sentral [Part 3]

Kali ini masuk ke bagian 3 edisi jalan-jalan kami. Hari ke-2 kami memutuskan untuk mengunjungi wisata sejarah yang jaraknya cukup jauh sekitar 148 kilometer dari Kuala Lumpur (KL), yaitu Melaka atau Melacca. Pada tahun 1989, Melaka menjadi salah satu negeri atau provinsi yang ada di KL. Pada tahun 2008 Melaka dan George Town, dinobatkan oleh UNESCO sebagai Kota Warisan Dunia (World Heritage). Sebagai informasi tambahan bahwa kultur atau suasana di Melaka ini tidaklah asing bagi orang Indonesia khususnya Sumatera. Kami seperti berada di kota Riau, Palembang, ataupun Jambi. Mungkin ini juga menandakan bahwa adanya kerajaan serumpun, Melayu.

Singkat sejarah, Kerajaan Malaka atau yang lebih dikenal dengan kesultanan Malaka merupakan sebuah kerajaan yang pernah berdiri di Malaka, Malaysia. Kerajaan ini bercorak Melayu, dan didirikan oleh Parameswara antara tahun 1380-1403 M. Menurut kitab Sulalatus Salatin, kerajaan Malaka merupakan lanjutan dari kerajaan Melayu di Singapura. Kemudian, akibat adanya serangan dari Jawa dan Siam, maka pusat pemerintahan berpindah ke Malaka. Parameswara sendiri merupakan seorang yang berasal dari kerajaan Sriwijaya yang merupakan putra dari raja Sam Agi. Parameswara merupakan seseorang yang menganut agama Hindu. Saat kerajaan Sriwijaya runtuh akibat diserang oleh Majapahit, ia melarikan diri ke Malaka. Parameswara beserta rombongannya yang sudah memiliki peradaban yang lebih tinggi, berhasil mempengaruhi penduduk asli, sehingga bersama-sama dengan suku Laut, parameswara berhasil mengubah Malaka menjadi kota yang ramai. Nama Malaka diambil dari bahasa Arab “Malqa” yang berarti tempat bertemu. Alasannya karena di tempat inilah para pedagang dari berbagai negeri bertemu dan melakukan transaksi perdagangan. Lambat laun Kerajaan Malaka ini digantikan oleh Kerjaan Islam. [1]

Nah, kembali pada topik perjalanan kami ke Melaka. Kami memutuskan untuk menyewa mobil van isi 17 orang untuk mengantarkan kami ke sana. Saya sebagai team leader di sini sudah memesan beberapa bulan sebelum kami tiba di KL. Setelah browsing akhirnya saya menggunakan fasilitas Jelajah Hemat selama trip di sana. Kami tetap tidak menggunakan pemandu wisata, hanya menyewa kendaraan, pemandunya sekaligus pengendara yang asli orang Melayu Malaysia. Maka, tak susah bagi kami untuk sekedar bercerita seru bersama Bapak Naseer ini. Beliau banyak sekali menceritakan tentang budaya Malaysia dan cerita tentang serumpun antara Indonesia dan Malaysia. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai di sana sekitar 2 sampai 2,5 jam. Kami berangkat pada pukul 08.30 dan tiba sekitar 10.45. Cuaca sangatlah bersahabat, terang benderang cuy 😁 Sesampainya di sana, ternyata kota ini tak sebesar KL yang penuh dengan kendaraan dan orang. Kota ini termasuk bersih dan nyaman. Oh iya, kota ini sangatlah bersih karena Pemerintahnya melarang keras warganya merokok. Itu juga terlihat pada slogan di beberapa papan reklame yang bertuliskan "Don't Mess with Melaka" yang berarti menjaga kebersihan lingkungan. Ini sih keren ya warga dan pemerintahnya kompak. hehee



Ketika sampai di tempat wisata Melaka nanti akan dijumpai tulisan Selamat Datang di Melaka World Heritage City. Di seberang ini akan dijumpai gereja tua St. Francis Xavier yang dibangun oleh  Portugis sejak 1859. Berjalan sedikit dari tulisan selamat datang Melaka, Anda akan menemui toko-toko disepanjang jalan. Mulai dari berjualan baju, pernak-pernik, makanan, dan lainnya. Sampai pada area  Stadthuys lokasi paling populer dan menjadi pusat wisatanya yang terkenal dengan Kota Peranakan Warisan sehingga bisa dijangkau hanya dengan berjalan kaki. Pertama, dijumpai Balai Seni Lukis Malaka yang dibangun pada tahun 1958 serta menjadi Museum Galeri Seni di Melaka. Di samping Balai Seni Lukis ini terdapat Gereja Kristus atau Christ Church Melaka yang merupakan gereja Protestan tertua di Malaysia yang dibangun tahun 1753 oleh  Belanda ketika mereka menguasai Portugis. [2] Di depan Gereja ini juga terdapat air mancur. Arsitektur ini juga didominasi oleh gaya Eropa bangunan yang megah, stuktrur dindingnya yang tebal, dan tiang-tiangnya yang tinggi.


   


Setelah puas untuk berfoto-foto selanjutnya kami berjalan ke atas bukit St.Paul kawasan Famosa. Gereja St Paul ini berada di atas sebuah bukit sehingga untuk sampai ke Gereja ini kami harus menaiki puluhan anak tangga. Disarankan apabila ke sini membawa air mineral dan juga payung karena cuaca amat terik. Sebelum kedatangan Portugis 1511 Bukit ini dikenali dengan Bukit Melaka, karena di kaki bukit inilah letaknya Istana Kesultanan Melayu Malaka. Namun, ketika Portugis datang semua bangunan Sultan Melaka dihancurkan. [3] Nah, di sana kita bisa melihat sisa-sisa reruntuhan bangunan yang sudah berdiri lebih dari 500 tahun. Pada saat memasuki kawasan ini Anda akan melihat patung St Francis Xavier yang masih kokoh berdiri. Adapun yang menarik dari dalam bangunan ini ada terdapat sebuah lubang bawah tanah yang dilapisi besi, Ini kuburan St. Paul. Sembilan bulan jenazahnya sempat dimakamkan di gereja Saint Paul, namun jenazah Xavier konon tak cacat sedikit pun saat tubuhnya yang telah dikubur hendak dipindah makamkan di Goa, India. "Di waktu yang sama di tahun 1614, lengan kanan jenazah Xavier dipotong. Tapi, secara tak sengaja, telapak kanan patung Xavier juga hilang setelah patungnya didirikan dan bagian tangannya patah setelah sebuah dahan pohon jatuh menimpa patung tersebut," detik travel. [4]


Setelah itu, kami kembali turun dari bukit menuju Jonker Walk. Sebelum masuk ke kawasan ini, kami juga melewati Sungai Melaka. Sungai ini tepat di depan kawasan  Stadthuys. Sungai Melaka ini merupakan sungai penting semasa kerajaan Kesultanan Melayu Melaka dan mempunyai nilai sejarah yang tersendiri karena di kiri kanan sungai itu merupakan kawasan perbandaran, penempatan, perkuburan, perniagaan, perkapalan, pelabuhan, dan banyak lagi sejak ratusan tahun yang lalu. [5] Di tepi sungai ini ada beberapa kios yang menjual berbagai minuman dan makan ringan untuk menemani Anda sekedar bersantai berada di tepi Sungai Melaka. Sungai ini juga bersih tak heran jika sungai ini menjadi salah satu objek wisata ketika di Melaka, Melaka River Cruise. Anda bisa mengitari sungai ini dengan menggunakan kapal bot dan membayar sekitar 10-21 RM tergantung kedatangan Anda ke sini. Waktu terbaik untuk mengitarinya adalah malam hari. Harga bisa cek di sini.

Jonker Walk merupakan daerah Cina atau lebih dikenal dengan Chinatown Melaka. Di sini banyak ditemukan buah tangan antik, galeri lukisan, toko kesenian, dan juga banyak  restoran.  Ada juga pasar malam yang berada di sepanjang Jonker Walk ini. Nah, untuk makan di sini bagi Anda yang muslim harus berhati-hati ya karena tidak banyak restoran yang menyediakan makanan halal. 😊 Pilihan kami pada Restoran Mamee Jonker House yang dibuka sekitar 2014 lalu. Ini salah satu restoran halal di daerah Jonker Walk. Konsep restoran ini juga unik. Di sana Anda bisa menemukan makanan-makanan zaman dulu dan banyak tokoh-tokoh kartun yang menjadi wallpaper di dalam restoran ini. Banyak juga menu makanan dan minuman yang bisa Anda pilih. Harga di restoran ini juga terjangkau kantong Anda. Mulai dari 5 hingga 30 RM. Oh iya, saya suka ayam goreng di sini lho. Selain enak, ayamnya juga besar. hahaa 😋

Setelah makan siang, kami harus kembali ke KL. Namun, sebelumnya kami diajak oleh Pak Naseer untuk melihat kekuasaan Allah, Masjid Terapung Melaka. Masjid ini berada di Banda Hilir dan menghadap langsung ke Selat Malaka, selat tersibuk dan terpanjang di dunia. Masjid ini tak hanya menyuguhkan arsitektur bangunan yang indah namun juga pemandangan pantai yang mempesona. Keunikan masjid ini terletak pada bangunannya yang dibuat di pinggir pantai sebuah pulau buatan bernama Melaka sehingga saat pasang menghadirkan sensasi masjid yang seolah terapung di tengah lautan. Dengan kondisinya tersebut Masjid Melaka dijuluki pula dengan Masjid Terapung. Masjid yang mulai diresmikan pada tahun 2006 silam ini menempati lahan seluas 1,8 hektar dan mampu menampung 2000 jemaah. Jika dilihat sekilas, masjid ini mirip dengan masjid terapung di Jeddah. Ini yang juga menjadi inspirasi masjid ini berasal [6]. Alhamdulillah, kami berkesempatan untuk bisa menunaikan salat di sini. Sudah hati adem setelah salat ditambah lagi dengan pemandangan yang meyegarkan hati dan pikiran. Oh iya, sama seperti Masjid-masjid lainnya, buat yang ingin berwisata ke sini wajib mengenakan pakaian sopan dan menutupi aurat, bagi yang Pria ataupun Wanita. 😊




Kami tiba di KL Sentral sekitar pukul 5 sore. Waktu sewa van kami terbatas karena hanya sampai jam 5 sore saja. Alhamdulillah selama perjalanan pulang kami tidak terkena macet hanya saja ketika berada di pusat KL Sentral. Berhubung masih siang akhirnya kami memutuskan untuk sekedar jalan-jalan santai pada malam harinya mengunjungi Brickfield, Little India. Sebenarnya saya tidak menyangka akan menginap di lingkungan ini. Tidak suka? Ahh jangan salah, saya suka sekali. hahahahaa. Di sepanjang jalan Tun Sambathan Anda akan merasakan seperti berada di India, karena anda akan menemukan berbagai macam pernak-pernik pernikahan, asesoris baju, makanan, restoran, dan baju-baju khas India. Saya tidak melewatkan kesempatan ini. Saya membeli asesoris seperti, gelang, anting, tindikan dan juga baju khas India. Harga lebih murah di bandingkan  harga di Indonesia. Saya mendapatkan gelang dan tindikan/anting  seharga 3 RM saja atau sekitar kain songket India 26 RM untuk 2 meter, dan baju Punjabi (Punjabi Suits) lengkap dengan celana dan selendang yaitu 110 RM. Nah, saat itu 1 RM=Rp3.180. Saya pernah beli baju sejenis saree dan Punjabi suit itu 2 kali dari yang saya beli dan itu hanya berupa kain potongan belum dijahit. hehehhee Selain itu, di sepanjang jalan anda akan menemukan berbagi makanan "camilan" bagi yang suka, seperti dosa, parata, samosa, golgappa, panipuri, golab jamun, aneka keripik, dan lain sebagainya.

  

Makan malam kali ini tidak diputuskan untuk makan di restoran India, kami memilih restoran siap saji di NU Mall dekat tempat penginapan kami. Paket ayam nasi di sini dihidangkan dengan nasi lemak yah. So, selamat berlemak. 😀 Restoran tempat kami menginap juga menghidangkan makanan India, rasanya sudah cukup bagi kami mencicipi makanan khas India. Roti cane dan teh tariknya, enaaaak. 😋

Bagaimana dengan hari ke-3 kami? Kali ini kami berpindah tempat dulu, sejenak melihat tempat lain yang jauh lebih indah. Selamat Traveling Guys! 😊💃 

..to be continued..


Baca juga  ↓↓
Part 1: Traveling ke Malaysia Tanpa Guide https://www.jumantaradikara.web.id/2017/09/malaysia-part1.html
 
foto lainnya diambil oleh : Ahmad Faried, dr. Sp.BS


Continue reading Traveling ke Malaysia: Explore Melaka dan Little India KL Sentral [Part 3]

Jumat, 20 Oktober 2017

, ,

Traveling ke Malaysia: Menyusuri Masjid Jamek, Menara Petronas, dan Bukit Bintang [Part 2]

Haaii setelah membahas perjalanan saya sebelumnya tiba di Kuala Lumpur beserta tips dan triknya mari kita masuk ke destinasi pertama saya di sana ya. Harusnya hari pertama kami bisa mengunjungi beberapa destinasi, karena ada permasalahan pada proses check-in maka waktu kami banyak yang terbuang. Akhirnya di waktu yang terbatas kami memutuskan untuk memilih tiga tempat yang menjadi "hits" di Kuala Lumpur.

Pertama, kami mengunjungi tempat bersejarah umat islam di sana,  Masjid Jamek Sultan Abdul Samad. Masjid Jamek atau Jami Sultan Abdul Samad terletak di Jalan Tun Perak, City Centre, 50050 Kuala Lumpur, Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur, Malaysia. Masjid ini merupakan masjid yang tertua di Kuala Lumpur. Masjid ini dibangun pada tahun 1909 oleh Arsitek asal Inggris, Arthur Benison Hubback yang tertarik merancang masjid dengan gaya arsitektur Mughal Muslim India. [1] Masjid ini terletak di antara pertemuan Sungai Klang dan Gombak. Jika Anda turun di Stasiun Masjid Jamek akan terlihat sungai yang menghubungkannya. Masjid ini persis di sebelah tempat anda keluar dari LRT Masjid Jamek. Saat pertama datang ke masjid ini Anda akan disungguhkan dengan tampilan gaya Arab India. Ada beberapa pohon kelapa yang mengitari masjid ini. Di dalam anda akan merasakan berada di Mekah dan berada diantara sungai biru yang indah. Alhamdulillah, kami tiba pukul 19.30an waktu KL di mana azan magrib sedang berkumandang dan menikmati  suara imam yang merdu. Oh iya, sebagai informasi untuk yang perempuan diharuskan menggunakan hijab atau minimal baju panjang dan pashmina untuk menutupi rambut, karena penjagaan di sini agak ketat. Kalau yang laki-laki harus pakai celana panjang, kalau tidak, ya tidak boleh memasuki area dalam masjid.

halaman depan Masjid Jamek


Masjid Jamek dari Stasiun dan malam hari 

Untuk menuju ke sana  naik RapidKL LRT dari KL Sentral Stasiun dengan menggunakan rute Kelana Jaya Line dan turun di Masjid Jamek Stasiun. Single tiket dengan menggunakan mesin tiket seharga 1,6 RM. Saat itu kami ingin menggunakan kartu Touch n Go namun karena sedang habis maka kami menggunakan tiket sekali jalan menggunakan koin biru. Untuk daftar harga per tujuan bisa lihat di website RapidKL. Nah, sebelum datang ke tempat yang ingin dikunjungi bisa unduh peta RapidKL di KL City Guide.

Gambar dari: KL City Guide


Setelah sejenak menenangkan hati dan pikiran di Masjid Jamek kami berlanjut menuju Kuala Lumpur City Centre (KLCC) untuk melihat maskot dari Kuala Lumpur ini. Menara kembar Petronas. Untuk mencapai Menara Petronas, naik LRT  RapidKL dari Stasiun Masjid Jamek dan turun di Stasiun KLCC dengan waktu tempuh sekitar 10 menit dan ongkos RM 1,9. Setelah tiba di stasiun KLCC Anda perlu berjalan sedikit sekitar 5-10 menit untuk menuju komplek KLCC. Jika Anda merasa bingung alangkah lebih baik bertanya pada petugas di sana supaya tidak tersesat seperti kami karena Anda akan tiba di Mall KLCC. Setelah sampai di depan Mall, anda bisa memilih untuk jalan menuju area mall atau area depan Menara Petronas ini. Jika ingin terlihat sempurna anda bisa menggunakan area pinggir dari Mall. Jaraknya mungkin sekitar 1 km. Jika ingin melihat air mancur dan hanya ujung menara anda bisa mengambil akses Mall SURIA KLCC. Jika ingin naik ke menara tersebut akan dikenakan biaya RM 85 😁 Kalau saya sih asal udah lihat dan foto-foto sudah oke. Menara Petronas atau Menara Kembar Petronas (bahasa Melayu: 'Menara Berkembar Petronas') di Kuala Lumpur Malaysia adalah sepasang menara kembar yang pernah menjadi bangunan tertinggi di dunia pada tahun 1998-2004, sebelum dilampaui oleh Burj Khalifa dan Taipei 101.  Di bawah bangunan ini, terdapat sebuah Taman KLCC seluas 17 acre (69.000 m2) yang menyediakan jalur untuk berjoging dan berekreasi, kolam air mancur yang dihiasi pertunjukan cahaya, kolam rendam, dan arena bermain anak-anak. Suria KLCC adalah salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Malaysia. [2]



Setelah puas untuk berfoto malam hari di Menara Petronas kami memutuskan untuk mengisi kekosongan hati, eh perut 😛 Kami memutuskan untuk menuju Bukit Bintang. Untuk menuju Bukit Bintang kami menggunakan bus GOKL (gratis) Rute Hijau (KLCC–Bukit Bintang). Perjalanannya memakan waktu hampir 10-15 menit. Bus GoKL ini memang dipersiapkan secara gratis khususnya untuk para wisatawan yang berkunjung ke sana. Untuk rute yang dilewatinya bisa cek di sini. Bukit Bintang juga menjadi salah satu destinasi wisatawan datang ke Kuala Lumpur. Bukit Bintang Kuala Lumpur merupakan pusat perbelanjaan, kafe al-fresco, bar, pasar malam, serta restoran jenis jajanan.[3] Nah, Arab Street ini juga berada di kawasan Bukit Bintang, banyak penduduk keturunan Arab yang tinggal di daerah ini. Tujuan kami bukanlah untuk berbelanja tapi mencoba menyusuri kawasan pasar malam dan jajanan malamnya, lebih tepatnya ke Jalan Alor. Untuk menuju kawasan ini, kami berjalan sekitar 500 m sampai 1 km. Sepanjang perjalanan kami banyak melihat banyak penjual yang berjualanan di sepanjang jalan, mulai dari jual pernak-pernik, makanan, baju, dan lainnya. Oh iya, untuk mencari makan di Jalan Alor cukup susah. Di sana mayoritas menjual masakan chinese food non halal. Nah, kalau mau berkunjung ke sini harus sudah tahu mau makan di restoran mana. Tak banyak yang menyajikan menu halal di sini. Mungkin karena sudah sangat lapar, kami tak menemukan restoran yang kami cari. Akhirnya kami menemukan restoran halal dan banyak orang muslim yang makan di sana.  Ternyata rumah makan Noy THAI bersebelahan dengan restoran kami. hahhaa. Saya mendapatkan rekomendasi dari teman saya yang orang KL bahwa Noy THAI juga bisa menjadi alternatif untuk makan halal di Jalan Alor.



bersama #UPIHKICrew

Setelah selesai makan tak terasa waktu menunjukkan pukul  setengah 12 malam. hahaa 😁 Semua transportasi di sini berhenti beroperasi pada pukul 11 malam. Akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan transportasi online. Butuh beberapa kendaraan untuk mengangkut kami semua. Di Bukit Bintang pada jam 11-12 masih macet dan masih banyak orang yang beraktivitas di sana, mungkin karena pusat belanja dan hiburan. Kami tiba di penginapan sekitar 12 malam. Ternyata jarak Jalan Alor menuju penginapan kami tidaklah terlalu jauh.

Bagaimana dengan hari ke-2 kami di Kuala Lumpur ya? Setelah seharian penuh energi kami terkuras. Beruntungnya saya sudah minum Milo panas pas makan malam hahahaa *milo Malaysia. 💪 Tunggu cerita selanjutnya ya...

..to be continued..


Baca juga  ↓↓
Continue reading Traveling ke Malaysia: Menyusuri Masjid Jamek, Menara Petronas, dan Bukit Bintang [Part 2]

Jumat, 29 September 2017

, , ,

Traveling ke Malaysia: Jalan-jalan ke Negeri Jiran dan Tips Tanpa Guide di KL [Part 1]

Pertama ke luar negeri? Wah, itupun berlaku untuk saya, lho. Sejak dulu saya sudah memiliki paspor, tapi belum kesampaian untuk menghiasi isinya dengan cap negara-negara lain. Sebenarnya saya sih masih ingin mengeksplor Indonesia lebih dalam. Mencoba sesuatu yang baru itu adalah sebuah tantangankan?

Trip ini muncul karena berawal dari wacana sederhana teman-teman kantor untuk liburan hemat dan singkat ke Malaysia. Akhirnya sebagai bos travel dadakan, saya membuat rencana atau itinerary tempat manakah yang akan kami tuju. Saya sendiri belum pernah mengunjungi Malaysia sebelumnya. Berbekal dari  hobi traveling, membaca blog-blog orang, serta peta digital akhirnya hari per hari pun terselesaikan. Membuat  itinerary tanpa pernah mengunjungi negaranya adalah hal yang susah-susah gampang, tapi selain percaya pada kemampuan pribadi, percaya juga pada peta digital yang semakin lama semakin canggih. Selain itu, saya juga bertanya kepada beberapa teman yang pernah ke sana dan tinggal di sana.

Perjalanan kami ke Malaysia dan Singapura kali ini low budgeting artinya explore sendiri tanpa guide. Biaya yang dikeluarkan sekitar 3,8 jutaan termasuk tiket pesawat ke KL dan Singapura. Untuk ke Malaysia dan Singapura atau negara ASEAN tidak diperlukan visa dari Indonesia, gratis. Tiket pesawatpun sudah dipesan jauh-jauh bulan, maklum perjalanan kali ini tidak sendiri, berdua, atau bertiga tapi berenam belas. hahaa 😁 Selain bersama teman sekantor, beberapa diantaranya ada yang membawa keluarga, anak atau istri juga. Maka sebagai "bos travel" saya harus memastikan semua tujuan, transportasi, akomodasi, dan tempat makan semua sudah lengkap dan jelas. Dari Bandung ke Kuala Lumpur kami mengambil penerbangan pagi pukul 08.40 dan sekitar 2 jam tiba di Kuala Lumpur. Saya melupakan satu hal bahwa zona waktu Indonesia dan Malaysia itu berbeda satu jam, Malaysia lebih cepat dari Indonesia. Alhasil kami tiba pada pukul 11.40. Saya baru pertama kali menginjakkan kaki di Bandara Husein Sastranegara degan tujuan Internasional dan bandara ini sudah direnovasi. Ruang tunggunya pun kini secantik bandara lain, nyaman, dan cukup besar.

   


Perjalanan dari Bandung ke Kuala Lumpur membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam. Kami tiba di Bandara Kuala Lumpur International Airport 2 (KLIA2) sekitar 11.40 waktu Malaysia. Pertama tiba di Bandara, langkah pertama mendatangi imigrasi setempat. Hmhm.. akan ditanyakan apa ya? Isu sana sini akan diwawancara ini itu, eh sampai waktu saya dipanggil, hanya dicap saja. :D Sebagai informasi, KL ini juga menjadi tempat transit berbagai negara maka tak heran jika antrian di imigrasi cukup panjang, bisa menghabiskan waktu 15-30 menit lho. Sayangnya, di imigrasi no pict jadi bayangkan saja panjangnya ya. 😄

Giliran saya menunggu beberapa teman yang masih setia berdiri di antrian, karena kami rombongan jadi harus saling menunggu agar tidak berpencar. Setelah itu, barulah kami mengambil koper untuk menuju pintu keluar Bandara KLIA2. Sebagi informasi bahwa KL memiliki dua bandara KLIA dan KLIA2 maka kalian harus tahu menggunakan maskapai dan turun di terminal berapa. Kalau maskapai low price biasanya akan turun di KLIA2 :D Informasi tentang KLIA2 bisa didapatkan di websitenya mereka. http://www.klia2.info/

Selamat Datang di Malaysia. Tak lupa kami berpose di depan Bendera Malayia sebagai bentuk nyata kalau sudah tiba di sini. hehehe Sesuai dengan rencana kami akan menggunakan transportasi KLIA Express menuju KL Sentral. Ini kereta api cepat menghubungkan Bandara KLIA2 ke Pusat kota. Harga untuk transportasi ini 35 RM sekali jalan atau 110 RM untuk bolak-balik. Jika Anda belum yakin akan pulang jam berapa, saran saya memilih untuk satu kali perjalanan. Kereta KLIA Ekspres ini ada setiap 20 menit sekali dan 33 menit sampai di Stasiun KL Sentral. Jadi, jika tertinggal jam yang anda pilih, bisa ikut dipemberangkatan selanjutnya. Jadwal KLIA Ekspres ini juga bsa dicek di http://www.klia2.info/rail/klia-ekspres/klia-ekspres-schedule-from-klia2-to-kl-sentral. Untuk memastikan jam berapa saja kereta ini tiba di stasiun. Selain KLIA Ekspres anda juga bisa menggunakan taksi online, bus menuju KL Sentral dengan tarif yang relatif lebih murah 10-12 RM. Namun, waktu perjalanan 1-1,5 jam untuk sampai di KL Sentral.



 

Setelah tiba di Stasiun KL Sentral terlihatlah penuh sesak dan antrian ratusan orang yang ingin menuju beberapa tempat. Jika di Indonesia sudah tanggal merah maka di Malaysia tidak. Hari besar jatuh di Jumat, 22 Septembernya. Maka, terlihat banyak orang yang masih beraktivitas. Jika datang ke sini pastikan anda sudah tahu akan naik apa dan akan kemana ya. Jika tidak, akan bingung. Tapi di sini kalian akan menemukan banyak peta tujuan yang dipasang di hampir setiap transportasi. Di KL Sentral ini tidak hanya terdapat KLIA Ekspres saja tapi ada juga Rapid KL, KTM, KTM Komuter, dan KL Monorel. 😊 Info Transportasi: http://www.klsentral.com.my/conn_main.aspx

Di KL Sentral ini juga banyak terdapat restoran siap saji, café atau restoran yang bisa Anda pilih untuk alternatif makan siang. Kami memilih Meals Station. Ini hasil saya browsing dari berbagai blog dan katanya harga terjangkau kantong. Letaknya memang agak menyempit di jalan namun masih terlihat dari dalam Stasiun KL Sentral. Setelah dilihat harga relatif murah dan masih sesuai dengan lidah Indonesia. hahaa


Setelah selesai kami bergegas untuk menuju hotel dan check in karena waktu sudah menujukkan pukul 14.30 waktu KL. Berdasarkan google map jarak KL sentral dan hotel kami adalah 650 meter. Kami memutuskan untuk jalan kaki menyusuri jalanan. Namun ternyata kami diajak muter-muter. Saya bersama teman menyusuri sendiri jalanan yang tinggal 250 meter lagi. Karena kami rombongan akhirnya tidak melanjutkan jalan kaki dan menggunakan taksi online sebagai alternatif. Dijemput di Plaza Central menuju Brickfield KL Sentral. Ternyata memang hotel kami dekat dari sana. Maklum baru pertama. Kami mengeluarkan 3 RM dari Plaza Central ke Signature Hotel. 

Sesampainya di Hotel ternyata ada kendala pada saat check-in bahwa dua kamar hotel kami tidak terdaftar padahal sudah lunas. Kami pesan melalui aplikasi booking online. Setelah 45 menit berlalu barulah kamar kami semua tersedia.  Ingat yah, bahwa pelayanan di sana tidaklah seramah di Indonesia maka jangan kaget. hehee Maka pastikan bahwa semua pemesanan sudah diterima/verifikasi oleh pihak hotel ya. Kami menginap di Siganture Hotel belakang stasiun KL Sentral dan ternyata dekat kawasan little india. hahaa rezeki emang gak ke mana :D Penginapan kami tidaklah kelas berbintang namun cukup untuk kami beristirahat. Nah, karena ada kawasan India maka jangan heran kalau merasakan ada di negara India. hahaa Oleh karena waktu kami tersita oleh proses check-in yang lama, maka ada beberapa tujuan perjalanannya kami ubah untuk ke hari lain. Semoga sih masih keburu ya.

Sebelum tiba di Malaysia ada beberapa tips dari saya ketika akan trip atau traveling tanpa guide.
  1. Cari Maskapai penerbangan yang sesuai dengan kantong Anda. Persiapkan tanggal kapan pergi dan akan pulang. Ini juga penting untuk Anda yang ingin mencari harga tiket promo. Selain via travel online, Anda juga bisa mengunjungi beberapa pameran travel fair yang bisa mendapatkan maskapai bintang 5 tapi harga promo.
  2. Persiapkan paspor dan pastikan paspor Anda masih berlaku maksimal 6 bulan pada saat penerbangan. Sesampainya di sana Anda akan dicek atau validasi data di imigrasi asal dan tiba, misalnya Malaysia.
  3. Mempersiapkan Peta Wisata. Untuk mencapai daerah yang kita tuju, harus tahu kita menginap di mana dan akan kemana saja. Peta wisata tak lagi seperti dahulu sudah ada aplikasi peta digital yang memudahkan anda mencari lokasi.
  4. Mempersiapkan Peta Transportasi Umum. Di Malaysia sudah banyak transportasi umum menggunakan MRT, LRT, atau Bus Gratis yang diperuntukan untuk wisatawan. Asalkan kita tahu dari mana dan akan kemana. Transportasi Bandara ke pusat kota atau transportasi selama perjalanan di sana. Cek dan download peta: https://www.klia2.info/rail/klang-valley-rail-system/
  5. Mempersiapkan aplikasi transportasi online. Ini juga sangat penting saat anda berada di sana, jika butuh mendadak tak ada lagi transportasi umum, Anda bisa menggunakan aplikasi online saat di sana, misalnya GRAB. Karena transportasi umum beroperasi hanya hingga pukul 10 malam. Perlu diketahui bahwa kebanyakan mobil di sana adalah city car, jikalau anda dalam jumlah banyak, harus memesan beberapa kali atau dibeberapa ponsel gengam (handphone). 
  6. Tempat penginapan dekat pusat kota atau transportasi umum. Ini juga menjadi hal yang penting. Untuk memudahkan Anda berjalan tanpa guide di sana, pastikan bahwa penginapan Anda dekat dengan Transportasi Umum atau Stasiun. Karena kebanyakan wisatawan di sana memilih berjalan kaki ke stasiun ketimbang dengan taksi atau kendaraan sewa. Lebih memungkinkan anda memilih KL Sentral sebagai alternative untuk bermalam di Kuala Lumpur, karena memudahkan anda untuk menuju ke lokasi yang ingin Anda tuju.
  7. Mempersiapkan uang Ringgit dalam jumlah cukup. Karena tak banyak dijumpai Money Changer di setiap perjalanan hanya di tempat tertentu, seperti Mall, Stasiun, atau Hotel. Harganyapun akan berbeda dengan Anda menukar di Indonesia.
  8. Mendaftarkan Paket Data Internet. Bagi seorang pengguna data internet adalah hal yang penting untuk memiliki paket data, selain untuk berkomunikasi juga untuk kepentingan lainnya. Di Malaysia sinyal yang cukup stabil digunakan adalah Telkomsel dan XL karena sudah bekerja sama dengan Indonesia. Sebaiknya, mengaktifkan paket data dari Indonesia saja agar lebih aman.
  9. Siapkan Steker Kaki 3. Berbeda dengan di Indonesia di Malaysia dan Singapura, instalasi colokan listriknya bukanlah berkaki 2 melainkan berkaki 3. Ini juga berlaku di tempat menginap. Maka sebelum menyesal, bawa steker kaki 3 untuk mengisi semua daya elektronik agar perjalanan anda terekam dengan baik dan ketika diperlukan saat urgent kehabisan baterai karena power bank tak sempat diisi. 😃
Nah, bagaimana? Sudah siap menjelajah negeri sebrang tanpa guide? 😊 Canda tawa bersama teman-teman akan jadi pelipur rasa letih selama perjalanan lho. hehehe. Selamat traveling ya guys! 💋 💜 🙋

..to be continued..

Baca Juga ↓↓

Continue reading Traveling ke Malaysia: Jalan-jalan ke Negeri Jiran dan Tips Tanpa Guide di KL [Part 1]